Once upon a time at the skyline of the hill,
When the silence replace anything,
red is the color...
and the wolves is the king
They're called the Wolves
Real hunters ... powerful, effective and wild
They formed solid teams and always need each other
But sometimes they're hunted and considered as an enemy
just because of hatred ...
or fear ...
 
        The Wolves
 


 
Setelah peristiwa penggantungan Panglima pemimpin gerakan bawah tanah, Gina mulai menyadari bahwa posisi Pasukan Gerakan Bawah Tanah ( PGBT ) sudah tidak dapat dipertahankan lagi. Agen rahasia kerajaan dan para pengkianat telah menyusup kemana-mana. Gina dan Jani mendatangi pertahanan terakhir PGBT untuk mengabarkan berita tersebut, tetapi mereka tetap tidak mau mundur. Gina adalah orang yang realistis, ia sangat mempercayai instingnya, ia memutuskan untuk meninggalkan PGBT untuk menjalani hidup normal di Asam Arang, tetapi hal ini tidak disetujui oleh Jani, hingga akhirnya mereka sempat bertikai. Gina mengambil keputusan seperti itu karena ia tidak mau merasa hidupnya akan habis-habisan lagi, seperti yang terjadi pada masa lalunya, tetapi yang paling utama karena ia tidak mau kehilangan sahabatnya Jani.

Bradi memulai perjalanannya menuju ke Asam Arang, di sepanjang jalan ia selalu mendapatkan rintangan dari orang-orang yang ingin memusnahkannya. Hitari dan kelompoknya berhasil mengejar Bradi di perbatasan Galuh, tetapi Bradi berhasil mengalahkan mereka walaupun dengan luka-luka dalam yang dideritanya karena untuk kedua kalinya ia tidak bisa membunuh Hitari dengan ilmunya itu. Di Kawasan Kedu, tanpa sengaja Bradi bertemu dengan Alap dan Kumbang dalam suatu penyergapan pasukan Kedu, yang ternyata Alap dan Kumbang memang sudah lama diincar oleh mereka. Karena Bradi membantu mereka lolos, Kumbang jadi sangat percaya kepada Bradi dan Bradi menjadi orang asing pertama yang dapat masuk ke jantung Alas Roban.

Di lain cerita, nama Kanu sudah tercantum di daftar cekal orang-orang yang terlibat gerakan bawah tanah. Untuk tidak mencemarkan nama besar Padepokan Gunung Lawu, sebagai tempat penggodokan perwira-perwira kerajaan, Surbasala, seorang panglima lulusan Gunung Lawu, turun sendiri menangani masalah ini. Kanu dinyatakan keluar dari Padepokan dan diusir dari sana, kemudian diberikan status bebas untuk dibunuh. Dengan bantuan Nakila, Kanu berhasil lolos, tetapi ia tidak tahu kapan akan bertemu Nakila lagi dan ia terus diburu oleh pasukan Surbasala. Kanu sempat bertemu Gina dan mengajaknya untuk membangun kekuatan kembali, tetapi Gina tetap pada pendiriannya dan menganggap bahwa usaha Kanu akan sia-sia saja.

Akhirnya Bradi bertemu Gina bersama Jani di perbatasan Asam Arang, tetapi Bradi tetap tidak tahu kalau Gina adalah anak Syah Bandar Asam Arang sampai suatu ketika mereka tahu bahwa Syahbandar dan seluruh keluarganya telah dibunuh dan rumahnya habis dibakar. Di saat itulah Nakoda yang bekerja melayarkan kapal-kapal Syah Bandar muncul dan menerangkan bahwa sang Syah Bandar sebenarnya tahu kalau Gina adalah anaknya yang dulu pernah hilang, yang selama ini Gina merahasiakannya karena ia merasa telah menjadi orang yang berbeda untuk masuk ke dunia keluarganya, ia sudah cukup bahagia dengan hidup di dekat mereka. Tetapi Kini semuanya sudah terlambat...


 


 
Gina, Jani, Bradi dan Nakoda sudah berada di jantung Alas Roban, tetapi kecurigaan masih meliputi mereka karena Kumbang menganggap Bradi mengingkari janjinya untuk tidak memberitahukan persembunyian mereka kepada orang lain. Tetapi kondisi seperti itu sedikit demi sedikit hilang sejalan dengan aksi mereka merampas harta para bangsawan untuk kemudian dibagikan ke penduduk di kawasan paceklik.

Mereka sempat bertemu Kanu yang saat itu sudah terdesak oleh pasukan elitnya Surbasala. Kanu berhasil ditolong dan pasukan Surbasala jadi kocar-kacir. Kanu sempat mengajak mereka untuk membangun kekuatan gerakan bawah tanah kembali, tetapi tidak digubris. Sempat terjadi keributan kecil, tetapi Kanu tidak bisa berbuat apa-apa, karena dia masih terluka dan butuh perlindungan.

Setelah ada penduduk desa yang sampai bersujud-sujud berterimakasih kepadanya, Kanu akhirnya tidak jadi pergi dan bergabung di Alas Roban. Justru dengan hadirnya Kanu, aksi mereka jadi lebih terarah, mereka sekarang mengincar upeti yang akan dikirim ke ibukota. Kanu punya kontak orang dalam yang akan memberitahukan waktu dan posisi pengiriman upeti, yaitu adik dari panglima pemimpin gerakan bawah tanah, yang tidak lain adalah paman dari Dewita. Dari sinilah mereka bertemu dengan sosok Dewita...


 


 
Surbasala yang telah gagal memburu Kanu merasa terpojokkan oleh sejawatnya, Panglima Antagana, yang sesumbar bahwa hal tersebut adalah masalah kecil bagi pasukan Banteng Wisanggeninya. Karena masalah harga diri dan politis, Surbasala meletakkan jabatannya, dan dengan sosok barunya, ia menggunakan pengaruhnya di dunia persilatan untuk membentuk kekuatan melawan para srigala, karena ia sadar bahwa yang dihadapinya kini bukan sosok Kanu saja, yang jelas dia tahu bahwa di belakang Kanu adalah bukan orang-orang sembarangan. Ia mulai menggulirkan masalah ini menjadi masalah moralitas.

Sementara berita perampasan upeti sudah menyebar, Adipati Rokasa, pemimpin Mataram, punya ambisi membentuk pasukan khusus dalam pengiriman upeti untuk menjebak Para Srigala. Taktik ini tidak berhasil dengan munculnya sosok wanita misterius bernama Mora. Kebetulan desa tempat membagi rampasan upeti tidak jauh dari Bukit Tengkorak di Kawasan Pajang, dan Mora adalah penunggu bukit angker tersebut. Justru dengan adanya bentrokan dengan pasukan Rokasa tersebut, jadi terungkap siapa pembunuh keluarga Gina...

Karena kegagalan misinya, Rokasa jadi semakin penasaran, hingga suatu saat datanglah seorang yang menyatakan bahwa ia adalah orang terdekat dari paman Dewita dan ia tahu tentang banyak hal, yang memang tempat persembunyian paman Dewita ada di Kawasan Mataram. Rokasa berhasil membuat jebakan sehingga dua kawanan srigala tertawan. Berita ini tercium oleh sekutu-sekutu Surbasala yang segera mengambil alih masalah ini. Tidak ada pilihan lain, para srigala harus menyelamatkan dua temannya yang lain, tetapi misi ini sangatlah sulit, karena yang mereka hadapi adalah tokoh-tokoh persilatan yang simpati pada Surbasala. Gina pun tidak memaksa mereka untuk ikut misi ini, karena pilihannya adalah hidup dan mati...


 


 
Kini saatnya Antagana membuktikan keampuhan pasukan Banteng Wisanggeninya. Bagi Antagana persoalan srigala adalah masalah kecil, ia malah menjadikan masalah ini sebagai uji coba hasil eksperimen generasi baru pasukannya. Sebuah eksperimen yang sedang diselidiki oleh Dewita, karena menyangkut misteri kematian kakak kandungnya waktu kecil, dimana ia yakin bahwa kakaknya sampai sekarang masih hidup.

Tomanjaru adalah generasi baru Banteng Wisanggeni, ia diturunkan di wilayah Kedu, ia mulai pencariannya dengan mengumpulkan data sebanyak mungkin arah pergerakan dari aksi para srigala, sampai suatu saat ia menyimpulkan satu tempat yaitu Alas Roban. Tetapi teorinya tidak diterima karena di lain tempat, yaitu di perbatasan Galuh, Tisan, juga salah satu generasi baru Bateng Wisanggeni, telah menemukan bukti hidup bahwa srigala ada di sekitar Galuh, dan ia punya banyak saksi untuk membuktikannya, termasuk Pratu, putri Adipati di perbatasan Galuh.

Sementara itu, melalui berita telik sandi, telah teridentifikasi bahwa Bukit Tengkorak adalah tempat persembunyian Mora. Misi penyergapan pun dilakukan, tetapi Dewita mengetahui rencana mereka dan berusaha untuk menyelamatkan Mora. Kejar-kejaran pun terjadi, hanya satu tempat yang memungkinkan Mora dan Dewita dapat meloloskan diri, yaitu Alas Roban...


 


 
Dengan dukungan Dewita , aksi para srigala lebih gila-gilaan lagi, mereka berani merampas bungker-bungker di ibukota. Sementara Dewita terus mendapatkan titik terang tentang kakaknya, ia telah sampai pada kesimpulan bahwa kakaknya sengaja diambil waktu kecil untuk dicetak menjadi laskar khusus dengan tujuan yang lebih besar lagi, yaitu penggulingan kekuasaan

Di lain pihak, Kanu merasa harus pergi dari Alas Roban untuk menemukan sumber ilmu tenaga dalam Gunung Lawu yang telah lama hilang, karena memang ia punya petunjuknya untuk pergi ke sana. Ia merasa kemampuannya selama ini belum cukup untuk memberikan kontribusi pada teman-temannya di antara para srigala. Tetapi sebenarnya hal ini lebih disebabkan karena Nakila yang sekarang benar-benar memusuhinya karena sebentar lagi dia akan dinobatkan menjadi ketua baru padepokan Gunung Lawu sebagai akibat terbunuhnya dua sesepuh Gunung Lawu waktu terjadi bentrokan dengan para srigala.


 


 
Setelah kesalahan yang dilakukan oleh Tisan, usaha Tomanjaru mulai diperhitungkan, bahkan ia sudah melangkah sangat jauh, ia sudah dapat masuk ke jantung Alas Roban, berinteraksi dengan para srigala bahkan ikut aksi-aksi mereka. Tetapi justru dari sini tanpa disengaja ia mulai menjalin ikatan batin dengan mereka, terutama dengan Gina.

Kewajiban harus tetap dilaksanakan, Tomanjaru dicuci lagi otaknya untuk tetap setia pada laskar dan rencana besar-besaran untuk menjebak para srigala segera disiapkan. Di lain pihak Nakila yang telah menjadi ketua Padepokan Gunung Lawu, mengikrarkan permusuhannya dengan para srigala...
 



   
  Website Novel The Hands  
 
   
  Website Naskah Novel Paranormal Academy  
 
   
 : : : : Gina Page : : : :  : : : : Bradi Page : : : :  : : : : Kanu Page : : : :  : : : : Dewita Page : : : :  : : : : Jani Page : : : :  : : : : Kumbang Page : : : :  : : : : Alap Page : : : :  : : : : Mora Page : : : :  : : : : Nakoda Page : : : :